Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia, Eko Putro Sandjojo, kunjungi Kabupaten Jombang, Kamis (24/11). Selain melakukan diskusi dengan sejumlah kepala desa, terkait Dana Desa (DD), dalam lawatannya, orang nomor satu di Kementerian Desa tersebut juga membuka final festival santri religi, di Ponpes Mamba’ul Ma’arif, Denanyar.
Diakui oleh Menteri Eko, Pesantren tidak dapat dipisahkan dengan kitab kuning. Lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, diadakan lomba hafalan nadzom yang diikuti ratusan santri dari berbagai pesantren.
Lomba tersebut dikemas dalam acara Festival Sastra Religi Musabaqah Hafalan Nadzom yang dibagi menjadi tiga tingkatan yakni Ula, Wustho dan Ulya. ”Kami berharap dari kegiatan ini para santri dapat membentengi diri dengan bekal moral yang cukup untuk menghadapi dinamika kehidupan bermasyarakat,” paparnya, kemarin.
Lebih lanjut dikatakannya, dengan digagasnya kegiatan festival maka dapat dijadikan sebagai proses menghidupkan kembali tradisi keilmuan yang mempersatukan pesantren. Eko selalu yakin, bahwa santri yang mengikuti lomba akan dipacu untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya, setelah sekian lama mengenyam pendidikan di ponpes. “Yang terpenting adalah sebagai jaminan bahwa kajian di pesantren NU selalu menjaga persatuan dan keutuhan NKRI,” imbuhnya.
SuperberitaNews, Lomba nadzom ini sudah berlangsung di tiga pesantren di Jatim, dan dibedakan menjadi empat zona. Para pemenang dari berbagai zona nantinya akan bertemu kembali di babak final. Para peserta adalah utusan 32 pesantren dari 10 kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Nantinya, yang bakal dilombakan yakni menghafal nadzom gramatika Bahasa Arab baik Imrithi, Jurmiyah hingga Alfiyah. “Selamat berlomba, semoga mencapai hasil terbaik,” tandas Menteri Eko. (wan)
Lomba tersebut dikemas dalam acara Festival Sastra Religi Musabaqah Hafalan Nadzom yang dibagi menjadi tiga tingkatan yakni Ula, Wustho dan Ulya. ”Kami berharap dari kegiatan ini para santri dapat membentengi diri dengan bekal moral yang cukup untuk menghadapi dinamika kehidupan bermasyarakat,” paparnya, kemarin.
Lebih lanjut dikatakannya, dengan digagasnya kegiatan festival maka dapat dijadikan sebagai proses menghidupkan kembali tradisi keilmuan yang mempersatukan pesantren. Eko selalu yakin, bahwa santri yang mengikuti lomba akan dipacu untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya, setelah sekian lama mengenyam pendidikan di ponpes. “Yang terpenting adalah sebagai jaminan bahwa kajian di pesantren NU selalu menjaga persatuan dan keutuhan NKRI,” imbuhnya.
SuperberitaNews, Lomba nadzom ini sudah berlangsung di tiga pesantren di Jatim, dan dibedakan menjadi empat zona. Para pemenang dari berbagai zona nantinya akan bertemu kembali di babak final. Para peserta adalah utusan 32 pesantren dari 10 kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Nantinya, yang bakal dilombakan yakni menghafal nadzom gramatika Bahasa Arab baik Imrithi, Jurmiyah hingga Alfiyah. “Selamat berlomba, semoga mencapai hasil terbaik,” tandas Menteri Eko. (wan)
Skhmemorandum.com

0 comments:
Post a Comment